Dinamika sosial bergerak dengan sangat masif, membawa dampak yang sangat besar terhadap kehidupan setiap individu.
Ditambah lagi dengan semakin pesatnya perkembangan platform media sosial. Membuat semakin cepatnya suatu informasi tersampaikan. Baik itu informasi yang positif dan bermanfaat, maupun yang tidak begitu berguna.
Media sosial yang dulunya hanya sekedar menampilkan tulisan, kini telah berkembang menjadi platform untuk berbagi foto maupun video. Segala macam konten hiburan bisa dengan mudah didapatkan.
Baca Juga: Stop Menormalisasi Sesuatu yang Tidak Normal
Bahkan belakangan ini (entah karena sudah menjadi tren atau memang karena tidak ada inspirasi konten lain) banyak bertebaran konten-konten yang menampilkan kehidupan seseorang. Seolah-olah mencari tahu kehidupan orang lain di era sekarang ini bukan menjadi hal yang sulit. Cukup lihat isi feed medsosnya, kita sudah bisa melihat bagaimana seseorang menjalani hidupnya. Walaupun sering kali apa yang nampak tidak benar-benar sesuai dengan kenyataannya.
Sebagaimana dunia ini berjalan dengan dua sisi (baik dan buruk, benar dan salah, terang dan gelap), konten-konten kehidupan orang yang banyak beredar juga memberikan dampak yang tidak selalu baik. Di satu sisi konten-konten tersebut bisa menjadi hiburan dan motivasi, di sisi lain konten tersebut justru menjadi justifikasi dan standar hidup bagi orang lain yang melihatnya.
Misalnya seperti sebuah konten yang menampilkan seorang pemuda umur 22 tahun, yang sudah bisa membeli iPhone terbaru, bahkan sudah bisa memiliki uang 500 Juta. Atau konten lain tentang seorang pria muda usia 25 tahun yang sudah bisa membeli mobil mewah, rumah besar, jam tangan mahal, dan lain sebagainya.
Baca Juga: Hilangnya Kepemilikan Pribadi
Bahkan ada juga sebuah video yang menampilkan seorang pria muda, yang dengan entengnya mengatakan bahwa “jika di usia 30 tahun kamu masih miskin, maka kamu bodoh.”
Konten-konten seperti itu secara tidak kita sadari telah merasuk ke dalam otak dan alam bawah sadar kita. Membuat kita menjadi memiliki suatu standar baru tentang kehidupan. Seolah-olah kita dituntut untuk harus menjadi kaya seperti para influencer itu.
Pada akhirnya, kita hanya akan ‘ketergantungan’ pada kehidupan yang terlihat orang lain, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik semua pencapaian orang-orang itu.
Lebih parahnya, dengan tidak sadar kerap kali kita malah menyamakan hidup kita dengan standar hidup mereka. Sampai-sampai kita ingin terlihat seperti orang-orang itu.
Hal tersebut tentu tidak serta merta terjadi begitu saja pada diri kita. Awalnya ini terjadi pada teman-teman dan orang-orang di sekitar kita. Lalu akhirnya secara tidak sadar kita terpengaruh oleh mereka.
Baca Juga: Huawei: Simbol Perlawanan Hegemoni Barat
Melihat teman atau orang di sekitar kita memiliki iPhone terbaru, sepatu bagus, jam tangan mahal, mobil baru, rumah baru, dan lain-lain, membuat kita merasa juga harus bisa menyamai dia. Sampai-sampai kita lupa dengan kondisi sebenarnya dari diri kita sendiri.
Kita sudah terpengaruh, hingga menjadi ketergantungan pada simbol-simbol sosial. Demi bisa terlihat kaya dan setara, dengan bodohnya kita memaksakan diri membeli barang-barang yang bersifat simbolis, tak peduli jika harus hutang sekalipun.
Padahal, sebenarnya tidak masalah juga jika kita tidak terlihat kaya. Atau bahkan terlihat miskin. Bahkan jika memang harus hidup miskin sekalipun, sebenarnya juga bukan hal yang tabu, bukan sebuah aib yang harus dikubur jauh di dalam tanah.
Kita tidak benar-benar tahu bagaimana dunia bekerja. Kita tidak benar-benar tahu bagaimana kehidupan ini berjalan. Cukup jalani saja apa yang diamanatkan kepadamu sekarang, dan jangan pernah merasa bahwa kamu telah tertinggal. Kita hanya perlu selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk hidup kita.
Tidak ada tuntutan kita harus jadi konglomerat, harus jadi miliarder. Bahkan Tuhan pun tidak pernah memerintahkan kita untuk jadi orang sukses di dunia. Ia hanya memerintahkan kita untuk terus berusaha, melakukan yang terbaik, menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini. Kalaupun kita hanya bisa menjadi satu persen lebih baik setiap harinya, itu juga sudah bagus. Tidak perlu terlalu muluk-muluk. Kewajiban kita hanya berusaha, masalah hasil, itu urusan Dia.(*)




lucu juga ya. kita hidup di zaman ketika org bisa merasa gagal cuma karena ga memiliki sesuatu yang bahkan ga pernah mereka butuhin sebelumnya. maybe, yang perlu kita benahi bukan keadaan kita, melainkan definisi kita tentang “cukup”
okay copy