Foto Bulan
Jurnal

Tentang Kematian

Bagikan ke:

Dua puluh enam tahun umurku, menuju dua puluh tujuh. Masa hidup yang antara terasa dan tak terasa. Ternyata usia ini sudah menginjak dewasa.

Banyak hal terpikir dalam benakku. Entah itu tentang masa depan, harapan, impian, pernikahan, bahkan juga kematian.

Tak jarang aku berpikir seperti apa kematian, apa sebenarnya kematian itu, dan apa yang terjadi setelah kematian. Akan kah ada yang peduli dengan kematianku? Apakah akan ada yang menangisi kepergianku? Entahlah.

Baca Juga: Kumbang Kapiran

Aku bukanlah orang yang sempurna. Bukan juga Nabi yang terbebas dari segala dosa. Aku hanya manusia biasa, begitu banyak dosa dan salahku. Mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki, semua bagian tubuhku sudah tentu pernah melakukan dosa. Belum lagi dosa ke teman, kerabat, keluarga, dan orang-orang yang pernah aku temui. Dosa yang mungkin tidak pernah aku sadari.

Aku tahu semua yang hidup pasti akan mati. Tidak ada yang tahu kapan kematian itu akan datang. Apakah saat kita tua, atau bahkan sebelum kita beranjak dewasa.

Kematian demi kematian sudah aku saksikan. Dari seekor kucing jalanan, seorang bayi yang baru lahir, teman satu perusahaan, hingga orang tua ku sendiri. Semua terasa begitu menyesakkan di saat kejadian. Namun sesaat setelah itu, semua seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Hidup terus berjalan, dan dunia tetap berputar. Itulah kemudian yang membuatku kembali ke pertanyaan “Apakah arti kematian itu? Apakah akan ada yang peduli dengan kematianku nanti? Akankah ada yang menangisi kepergianku?”.

Baca Juga: Rumah

Dari banyaknya fikiran tentang kematian yang menggentayangiku, ada beberapa hal yang aku inginkan. Suatu saat ketika kematian itu tiba, aku ingin semua berjalan lancar, tidak merepotkan orang lain, dan mati dalam keadaan yang baik. Aku juga ingin mati dalam keadaan sedang melakukan kebaikan, sudah menjalankan rukun Islam, dan mendapatkan maaf dari orang-orang yang pernah aku sakiti.

Aku tidak ingin kematianku menjadi bahan gunjingan, atau bahkan olok-olokan karena keburukanku.

Namun, sebelum kematian itu tiba. Aku ingin meninggalkan sebuah legacy yang bermanfaat. Apapun itu. Entah sebatas kepada keluarga dan orang terdekatku, atau bahkan ke masyarakat banyak. Aku tidak ingin hidupku hanya sekedar hidup. Aku ingin menjadi seseorang yang dapat menyebarkan kebaikan, kasih sayang, dan berkah. Semoga Tuhan memberkahi hidupku dan hidup kita semua, serta memanjangkan umur kita untuk dapat terus melakukan kebajikan. Aamiin.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *