Bagai kumbang yang terjebak dalam ruang kaca, yang berusaha keluar meraih bunga indah di luar sana. Namun sayang usahanya harus kandas, dan hanya menabrak-nabrak dinding kaca.
Mungkin begitulah yang terasa dalam hatiku sekarang. Ada banyak hal indah yang ingin kuraih di luar sana. Banyak harapan dan impian yang bergemuruh dalam pikiran. Tapi sayang, semua itu hanya jadi sebatas angan.
Baca Juga: Rumah
Aku tahu aku ingin apa, namun aku bingung bagaimana harus menggapainya. Jadinya ya bingung sendiri, sumpek sendiri, ujung-ujungnya stres sendiri.
Malam ini, saat Sang Bulan masih malu-malu menampakkan wajahnya. Dan pikiranku sudah kemana-mana. Satu yang paling mengganggu dan membuatku hampir gila. Yaitu kamu, “Si Bunga”.
Mungkin memang aku yang terlalu kurang ajar, dan tak tahu diri. Dengan percaya diri aku nekat mencintai bunga di puncak tebing tinggi. Meskipun aku tahu, di sisi lain tebing sudah ada Kumbang yang mendaki, lebih dekat dan makin mendekati. Namun aku tetap dengan tanpa rasa malu mencoba mendaki dari tebing sisi kiri.
Baca Juga: Jalan Lelah Mengenang Sejarah
Aku, Si Kumbang kecil yang sayapnya hampir tak berfungsi. Yang susah payah untuk dapat terus berdiri. Harus berhadapan dengan ia, Si Kumbang Pangeran yang gagah berani. Separuh dunia telah ia lalui. Menguatkan kaki dan sayapnya sendiri. Maafkan aku Bunga. Aku hanya jadi pengganggu proses mekarmu. Aku hanya merusak keindahanmu. Selamat bertumbuh, dan mekar bersama Pangeran Kumbangmu. Thank You!(*)



