Era media sosial telah banyak membawa perubahan pada berbagai macam aspek kehidupan kita saat ini. Seiring dengan hal itu akibatnya banyak bermunculan berbagai macam tren yang mungkin sebagian dari kita juga mulai mengikutinya. Padahal, tidak semua tren yang ada di media sosial itu baik, bagus dan benar. Tak sedikit pula yang justru membawa kerusakan bahkan berpotensi merugikan diri sendiri. Fenomena selalu mengikuti tren ini sering kita sebut dengan FOMO (Fear of Missing Out), di mana banyak orang merasa takut ketinggalan (atau setidaknya dianggap ketinggalan/kudet) jika tidak mengikutinya. Hal seperti ini banyak terjadi di kalangan anak muda, khususnya pada generasi millenial,…
Tulisan ini hanyalah sebuah ungkapan isi hati dan hasil perenungan pribadi yang aku lakukan. Munculnya tulisan ini adalah imbas dari kegusaran hati dan pikiranku tentang banyaknya quotes maupun kalimat-kalimat motivasi yang bertebaran di berbagai media, baik media cetak, tulisan maupun media sosial khususnya.
Beberapa waktu lalu aku melihat di timeline Instagram sebuah postingan dari salah satu akun organisasi Islam terbesar di Indonesia. Dalam postingan tersebut menjelaskan sedikit tentang konsep Ekoteologi yang akhir-akhir ini sedang gencar digaungkan oleh Kementerian Agama RI. Ekoteologi sendiri menurut Dr. Sholehuddin, S.A, M.Pd.I merupakan perpaduan antara pendekatan-pendekatan agama dengan isu lingkungan, dengan bahasa lain dapat dijelaskan sebagai bagaimana kita menyelesaikan permasalahan-permasalahan lingkungan dengan pendekatan agama.
Dikala semua orang tergila-gila sama Iphone, saya justru memikirkan kenapa hal itu bisa terjadi. Artikel ini akan memberikan gambaran tentang keresahan hati saya terkait Iphone.
Kerap kali kita merasa bahwa apa yang kita ingin pasti akan kita dapatkan. Kita lupa bahwa dunia tidak benar-benar berjalan sesuai dengan keinginan kita.
Meski ‘ngrasani’ lebih cenderung dianggap sebagai perilaku yang buruk, namun ternyata bisa menjadi salah satu alternatif pengendalian sosial tanpa harus melakukan tindakan represif. Pada akhirnya masyarakat yang terkendali secara sosial akan mewujudkan keharmonisan dalam kehidupan.
Kapitalisme telah membawa banyak pengaruh terhadap sendi-sendi kehidupan manusia. Baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi maupun budaya dan kebiasaan. Namun, bukan tanpa kurang, kapitalisme juga telah memakan banyak korban.
Berita tentang transportasi memang selalu menarik untuk dibahas. Pasalnya transportasi sudah menjadi kebutuhan utama untuk perjalanan dan pergerakan roda ekonomi. Khususnya untuk transportasi massal seperti Kereta Rel Listrik (KRL). Baru-baru ini muncul berita bahwa ada wacana dari pemerintah untuk menerapkan subsidi tarif KRL berbasis NIK. Namun, sebelum wacana tersebut benar-benar terealisasi, mari kita ulas sedikit apakah kebijakan tersebut benar-benar akan efektif.
Sejarah mencatat bahwa peradaban manusia selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Dari nomaden ke menetap, dari berburu ke berkebun, dari manual ke otomatis. Bahkan teori sains juga mengatakan kalau manusia mengalami evolusi semenjak terciptanya alam semesta, mulai dari partikel ke sel, dari sel ke makhluk bertulang, hingga menjadi manusia seperti saat ini. Tak hanya dari segi peradaban dan fisik saja, manusia bahkan mengalami perubahan secara psikologis dan karakter dari generasi ke generasi.
Halo rekan-rekan pembaca sekalian. Semoga kesehatan dan keselamatan selalu menyertai kita semua. Kali ini penulis lagi-lagi mendapatkan pemikiran yang bisa dibilang agak nyeleneh. Tapi sebenarnya agak ada benarnya juga. Entah kenapa penulis berpikir bahwa ternyata kebodohan atau lebih tepatnya ketidaktahuan adalah suatu berkah. Kenapa bisa begitu? Di artikel ini akan coba penulis jabarkan pelan-pelan.