Membaca novel adalah salah satu kegiatan yang cukup menyenangkan bagiku. Setidaknya aku bisa sedikit merasa lebih santai, dan otakku juga bisa agak menurunkan ketegangannya dari ribuan konten-konten pendek yang disajikan algoritma sosmed.
Ada banyak novel yang menarik untuk dibaca, beberapa diantaranya merupakan novel-novel klasik karya penulis-penulis abad ke-18 hingga ke -19.
Salah satu yang baru saja selesai aku baca yaitu novel White Nights atau Malam-Malam Putih (versi Bahasa Indonesia), karya Fyodor Dostoevsky. Berikut akan aku coba untuk sedikit mereviewnya secara singkat.
Ringkasan Cerita White Nights (Malam-Malam Putih)
White Nights atau Malam-Malam Putih adalah salah satu karya terbaik Fyodor Dostoevsky yang pertama kali ditulis pada tahun 1848 M.
Awalnya, karya ini diterbitkan melalui sebuah majalah sastra asal Rusia yang bernama Otechestvennye Zapiski (Catatan Tanah Air).
Baca Juga: Review Buku Nasihat Pernikahan Imam Al-Ghazali dan Relevansinya dengan Gen Z
Novel ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama, dimana sang penulis atau narator seolah menjadi tokoh inti di dalamnya.
Karya sastra ini menceritakan tentang seorang pemuda yang menyebut dirinya sebagai The Dreamer (Sang Pemimpi). Sudah hampir delapan tahun ia tinggal di Saint Petersburg, namun kehidupannya sangat muram, sunyi dan kesepian. Bahkan ia tidak memiliki satu pun kenalan di tempat itu.
Hingga pada suatu malam, saat ia sedang berjalan-jalan mengelilingi kota, pria itu bertemu dengan seorang gadis yang nampak sedang menangis. Entah apa yang dipikirkannya, ia memberanikan diri untuk menemui gadis itu. Belakangan diketahui wanita itu bernama Nastenka.
Pertemuan mereka sebenarnya terkesan tidak disengaja, namun dari pertemuan itulah kemudian terlahir suatu perasaan nyaman, ramah, dan hangat yang memeluk si pria pemimpi.
Malam demi malam mereka lalui bersama, mengobrol membicarakan banyak hal, hingga timbul rasa cinta yang tulus dari pria itu.
Akan tetapi, nampaknya pemuda itu harus kembali bercinta dengan kemurungan. Di akhir kisah, tepat saat malam keempat pertemuan mereka, saat sudah banyak hal mereka bicarakan bersama, bercengkerama penuh bahagia. Di saat itulah datang seorang pria yang tak lain adalah cinta lama Nastenka. Pria itulah yang selama ini ia tunggu. Pria itu juga yang telah membuatnya menangis di malam pertama kali ia bertemu dengan Sang Pemimpi.
Dan seperti kisah cinta muram lainnya, Nastenka memilih pria itu, pria yang sudah sejak lama dinantikan kedatangannya. Pria yang pernah berjanji akan menikahinya.
Sekilas tentang Penulis
Fyodor Dostoevsky, begitulah ia dikenal. Ia memiliki nama panjang Fyodor Mikhailovich Dostoevsky, seorang pria kelahiran Moskow tahun 1821 dari pasangan Mikhail dan Maria Dostoevsky.
Sejak usia tiga tahun, Dostoevsky sudah akrab dengan kisah-kisah dan dongeng-dongeng pahlawan yang biasa dibacakan oleh pengasuhnya, Alena Frolovna. Ia dibesarkan bersama karya-karya epik Karamzin, Pushkin, Gogol, Derzhavin, Schiller, Goethe, Cervantes, Walter Scott, hingga Homer. Karya-karya itulah yang membentuk cara pandang Dostoevsky terhadap dunia, manusia, dan kehidupan.
Baca Juga: Review Singkat ‘Cantik Itu Luka’: Saat Kecantikan Menjadi Kutukan
Sebagai salah satu penulis terbesar dalam sejarah Rusia dan dunia, Dostoevsky banyak membuat karya yang mengupas kondisi manusia, politik, sosial, hingga spiritual Rusia abad ke-19, yang saat itu masih sangat bergejolak.
Beberapa karya besar Dostoevsky yaitu Crime and Punishment (1866), The Idiot (1869), Demons (1872), The Adolescent (1875), The Brothers Karamazov (1880), dan salah satu yang cukup terkenal adalah Notes from Underground atau Catatan dari Bawah Tanah, yang terbit pada tahun 1880.
Penutup
Awalnya aku sama sekali tidak tahu tentang buku White Nights ini, hingga pada suatu hari, saat aku pulang kampung, aku berkunjung ke salah satu bazar buku di daerah kampung halamanku. Dan disitulah temanku memberikan rekomendasi untuk membaca buku ini.
Versi pertama dari novel ini yang aku punya adalah versi Bahasa Inggris dari Norris Classic. Tampilannya cukup menarik. Namun karena bahasa Inggris-ku ngga terlalu bagus, jadi aku tidak bisa memahami kisah apa sebenarnya yang ada dalam buku tersebut.
Kemudian, saat kembali ke perantauan, ada event bazar buku di Ibukota Provinsi. Setelah menyesuaikan jadwal, akhirnya aku pergi ke sana dan menemukan novel White Nights versi Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Narasi. Di situlah aku membelinya, dan baru paham seperti apa kisahnya.
Membaca White Nights atau Malam-Malam Putih karya Fyodor Dostoevsky ini cukup membuatku terenyuh. Bahkan mungkin ada sedikit ketukan dalam hatiku yang membuatnya turut larut dalam kesedihan (tentu tidak sampai menangis). Entah karena memang sebagus itu kisahnya, atau ada semacam kemiripan antara kisah dari novel itu dengan apa yang aku alami saat ini.
Bagi kalian yang ingin memiliki novel White Nights ini, dan malas untuk jauh-jauh pergi ke toko buku, silakan klik link berikut:
Beli Novel White Nights versi Indonesia
Beli Novel White Nights versi Inggris
Itulah sedikit tulisan tentang review singkat novel White Nights atau Malam-Malam Putih karya Fyodor Dostoevsky yang bisa aku sampaikan. Semoga bisa sedikit memberi gambaran buat kalian yang ingin menambah koleksi bacaan, dan tertarik dengan novel-novel klasik seperti novel yang aku bahas ini. Terima kasih.(*)



