Ilustrasi Sejarah Uang
Edukasi

Sejarah Uang: Dari Barter Hingga Bitcoin

Bagikan ke:

Uang merupakan salah satu benda yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hampir semua aspek kehidupan pasti membutuhkannya.

Adanya uang telah membuat manusia menjadi semakin mudah dalam memenuhi kebutuhan. Utamanya yaitu sebagai alat tukar.

Akan tetapi pada perkembangannya, uang tidak hanya digunakan sebagai alat tukar, namun juga sebagai tanda kekayaan seseorang. Semakin banyak uang yang dimiliki seseorang maka semakin kayalah orang tersebut.

Di zaman sekarang, uang semakin mudah untuk disimpan dan dibawa kemana-mana.

Baca Juga: Mengapa Harga Barang Bisa Naik Turun? Memahami Konsep dan Faktor Penentunya

Pembelian barang maupun jasa saat ini bahkan sudah bisa dilakukan tanpa menggunakan uang fisik, cukup dengan uang digital yang berupa saldo nominal pada media penyimpanan uang digital, seperti E-Wallet, kartu debit, M-Banking, dan lain sebagainya.

Namun, ternyata uang tidak serta merta muncul bergitu saja. Terdapat sejarah yang sangat panjang hingga menjadikannya seperti saat ini. Berikut adalah ulasan singkatnya.

Sistem Barter

Ilustrasi Barter (Dibuat dengan GeminiAI)

Pada mulanya, manusia memenuhi kebutuhan dengan berusaha sendiri dan bergantung pada alam.

Pada masa itu manusia masih menjadi makhluk individu yang selain berperan sebagai produsen juga bertindak sebagai konsumen sekaligus.

Akan tetapi, pada perkembangan selanjutnya manusia menyadari bahwa tidak semua kebutuhan dapat dipenuhinya sendiri. Mereka juga memerlukan bantuan dan kehadiran orang lain untuk memenuhi kebutuhan.

Pada saat itulah mulai muncul praktik tukar menukar barang, atau yang biasa dikenal dengan ‘barter’.

Praktik barter ini dilakukan dengan saling bertukar barang atau jasa yang dibutuhkan oleh kedua belah pihak, tentunya dengan kesepakatan diantara keduanya.

Baca Juga: Macam-macam Fungsi Uang yang Jarang Diketahui

Sebagai contoh, seseorang menukar sekarung beras dengan seekor kambing, atau juga seseorang membayar jasa orang lain dengan memberikannya satu karung buah-buahan.

Praktik barter seperti ini cukup efektif dilakukan hingga pada akhirnya menemui beberapa kendala, seperti tidak adanya kesepakatan antara kedua orang yang melakukan barter, dan sulitnya menentukan nilai dari barang yang dipertukarkan.

Munculnya Uang Barang atau Uang Komoditas

Keranjang Garam (Sumber: Pixabay)

Seiring dengan semakin tidak efektifnya praktik sistem barter, maka kemudian manusia mulai mengembangkan alat pertukaran lain yaitu dengan menggunakan barang dasar atau komoditas, dimana barang atau komoditas tersebut hampir dimiliki oleh semua orang.

Barang dasar atau komoditas tersebutlah yang digunakan oleh manusia pada saat itu sebagai standar alat pembayaran untuk mendapatkan sesuatu yang dibutuhkan.

Beberapa barang dasar atau komoditas yang digunakan saat itu antara lain garam, teh, tembakau, serta biji-bijian.

Hingga kemudian, sekitar tahun 9000 sampai 6000 SM, uang berupa barang dasar atau komoditas ini berubah menjadi hewan ternak.

Kemudian setelah era pertanian dimulai, uang komoditas berubah lagi menjadi hasil pertanian seperti gandum, sayur-sayuran dan tumbuhan-tumbuhan lainnya.

Hingga sekitar tahun 1200 SM manusia mulai menggunakan uang komoditas berupa barang-barang dari alam dengan ukuran yang lebih kecil dan tahan lama seperti cowrie, yaitu cangkang hewan sejenis moluska yang banyak ditemukan di pesisir Samudera Hindia dan Pasifik.

Semakin meluasnya praktik perdagangan, uang cowrie ini pun menyebar hingga ke Eropa.

Bahkan penduduk asli Amerika juga menggunakan benda yang hampir sama dengan cowrie, yang biasa disebut dengan wampum (cangkang kerang semacam manik-manik berbentuk tabung).

Selain itu, penggunaan barang dari alam sebagai mata uang juga dilakukan oleh orang-orang Fiji, yaitu berupa gigi ikan paus.

Barang lain yang juga digunakan sebagai mata uang adalah cakram dari batu kapur yang diukir. Mata uang ini digunakan oleh orang-orang di Pulau Yap.

Penggunaan Uang Logam

Ilustrasi Uang Logam (Sumber: Pixabay)

Awal mula penggunaan uang logam dapat ditelusuri hingga sebelum tahun 2000 SM di Babilonia. Namun, penggunaan mata uang logam yang terstandarisasi dan bersertifikat (resmi diatur oleh pemerintah) mungkin baru dimulai pada sekitar abad ke-7 SM.

Pada masa itu, Kerajaan Lydia (di Turki) mengeluarkan uang koin logam pertama yang diatur oleh pemerintah.

Mata uang koin logam tersebut muncul pada pemerintahan Raja Alyattes (610-560 SM) yang terbuat dari electrum, yaitu campuran alami emas dan perak.

Baca Juga: Teori Permintaan Uang: Pandangan Keynes dan Ekonomi Islam

Beberapa tahun kemudian, Putra Alyattes yang Bernama Croesus (560-546 SM) melakukan reformasi mata uang kerajaan, dan mulai memperkenalkan koin perak dan koin emas.

Beberapa waktu setelahnya, muncullah mata uang logam di beberapa tempat yang lain.

Uang Kulit dan Uang Kertas

Ilustrasi uang
Ilustrasi Uang Kertas (Sumber: Pixabay)

Pada sekitar tahun 141-87 SM, seorang kaisar Tiongkok yang berkuasa saat itu yaitu Kaisar Wudi menciptakan uang yang terbuat dari kulit rusa putih koleksi pribadinya. Uang tersebut dibuat secara terbatas dengan desain yang rumit.

Masih di daratan China, beberapa abad kemudian pada zaman kekuasaan Kaisar Zhenzong (997-1022 M) mulai dikenalkan mata uang kertas yang terbuat dari kulit kayu murbei.

Hingga pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, penggunaan uang kertas ini mulai menyebar ke berbagai wilayah lainnya.

Penggunaan uang kertas masih digunakan hingga saat ini. Hal tersebut dikarenakan uang kertas mudah disimpan dan dibawa serta memiliki nilai yang jelas.

Kertas yang digunakan untuk membuat uang kertas ini juga bukan kertas biasa, melainkan kertas khusus yang tahan lama dan tidak mudah rusak.

Uang Digital dan Koin Digital

Ilustrasi Mata Uang Kripto (Sumber: Pixabay)

Perkembangan uang tidak hanya berhenti pada uang kertas saja. Di zaman yang serba digital seperti saat ini pun juga memunculkan jenis-jenis uang lain yang lebih mudah disimpan dan dibawa.

Uang tersebut biasa disebut dengan uang digital, yaitu berupa saldo yang tersimpan dan tertera pada berbagai platform atau media penyimpanan uang digital seperti E-Wallet, kartu debit, kartu uang elektronik, dan lain sebagainya.

Tulisan saldo yang tertera di dalam platform penyimpanan uang digital itu tentunya bukan hanya sekedar tulisan, namun juga merupakan representasi dari jumlah uang yang dimiliki oleh seseorang, yang tercatat dalam sistem perbankan.

Selain uang digital, saat ini juga banyak bermunculan koin digital yang dapat digunakan untuk melakukan transaksi.

Beberapa koin digital tersebut diantaranya yaitu Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Dogecoin (DOGE), Tezos (XTZ), dan lain sebagainya. Demikianlah sedikit ulasan tentang Sejarah dan perkembangan uang hingga saat ini yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *