Suara alarm smartphone menarik paksa rasa kantuk dari kelopak mataku. Pelan-pelan kucoba bangkit dari istirahat malam yang sangat singkat dan entah kenapa terasa sangat melelahkan.
Hari itu Sabtu, 29 Desember 2025 tepat pukul 04.00 WITA tubuhku baru benar-benar tersadar setelah 5 menit bergulat dengan rasa malas, kantuk dan suara berisik alarm yang tak henti-hentinya berteriak layaknya komandan pasukan khusus itu. Segera aku bergegas menuju tempat jemuran, dan dengan sigap kusambar handuk yang sedang tergantung santai di sana. Kalau handuk itu bisa bicara, mungkin sudah dimakinya diriku ini.
Tanpa banyak basa-basi, aku langsung berlari menuju kamar mandi untuk bersih diri. Kubasuh setiap mili dari tubuh gempalku ini. Kunikmati setiap tetes air yang mengalir menelusuri tubuhku. Tak lupa pula aku ambil wudlu untuk keperluan ibadah sholat subuh.
Selesai sholat subuh, bersama empat temanku yang lain langsung kupersiapkan diri menuju Monumen Garongkong. Di sanalah kami berlima memulai perjalanan dan petualangan kami hari itu.
Baca Juga: Sepanci Pallumara, Sebuah Drama Kenikmatan
Petualangan kami kali ini bertajuk Napak Tilas Rute Andi Mattalatta Garongkong-Paccekke. Rute napak tilas ini merupakan jejak sejarah yang dilalui oleh Andi Mattalatta pada masa lalu saat mendirikan Tentara Republik Indonesia (TRI) (cikal bakal TNI) di wilayah Indonesia Timur, tepatnya di wilayah Sulawesi.
Perjalanan dimulai dari titik start di Monumen Garongkong, Kabupaten Barru. Berlanjut menuju Pos 1 di Desa Sepee. Oh ya, sedikit perlu kalian ketahui, total pos pada petualangan ini ada 7 termasuk titik start dan finish (Pos 6).
Namun, yang menarik pada kegiatan kami kali ini bukan dari rutenya, bukan pula dari jaraknya. Tapi dari pengalaman dan pelajaran hidup yang kami dapatkan. Dari kegiatan ini kami seolah dipaksa mengerti bahwa seberat apapun hidup ini, harus tetap dijalani.
Hal itu terasa ketika berada di antara pos 4 menuju pos 5, di sana kami merasa sangat lelah, letih, lesu, pokoknya ingin sekali kami menyerah. Tapi kemudian kami berpikir, kalau kami menyerah di sini, tidak ada petugas panitia, dan tak nampak pula ada rute evakuasi. Mau ngga mau ya kami harus lanjutkan perjalanan sampai ke pos 5, dengan angan-angan di sana kami bisa minta dievakuasi.
Singkat cerita kami berhasil tiba di pos 5. Anehnya, rencana untuk minta bantuan evakuasi tiba-tiba hilang begitu saja. Pasalnya di pos itu pemikiran kami berubah, dari awalnya yang ingin sekali dievakuasi, menjadi “udahlah nanggung banget ini, lanjutin saja sekalian”. Pasalnya jarak dari pos 5 ke garis finish sudah sangat dekat, dan medannya juga jalan raya yang mudah dilalui (meskipun banyak tanjakannya). Berbeda dengan medan di pos-pos sebelumnya.
Baca Juga: Berhenti Mengeluh! Nikmatilah Hidupmu
Dan ya, akhirnya kami lanjutkan perjalanan yang sangat melelahkan dan menyebalkan itu hingga sampai titik finish di Monumen Paccekke, Desa Paccekke, Kabupaten Barru tepat pukul 16.33 WITA.
Di sana kami istirahat sebentar, lanjut bersih diri dan sholat ashar serta menjamak sholat dluhur yang sebelumnya terlewat. Setelah itu kami hubungi teman kami untuk segera menjemput. Meski rangkaian kegiatan sebenarnya masih banyak, namun otak kami sepakat memutuskan untuk langsung kembali pulang ke rumah dan beristirahat.
Perjalanan yang melelahkan ini menempuh jarak sekitar 30 km, atau kalau berdasarkan data dari smartwatch yang kupakai tercatat 29,60 km. Ini adalah jarak tempuh jalan kaki terjauh yang pernah kulakukan selama hampir 3 tahun di Sulawesi Selatan.



Meski tubuh ini sangat lelah, tapi aku pribadi merasa sangat senang dan bangga karena berhasil menaklukkan medan yang cukup berat, dan menjadi bagian dari sejarah perjuangan Pahlawan Bangsa Indonesia. Ya meskipun Cuma sekedar mengenangnya saja melalui kegiatan Napak Tilas.
Berikut adalah beberapa foto yang berhasil kami abadikan dalam kegiatan kali ini.






Napak Tilas ini merupakan kegiatan yang bagus untuk mengenang perjuangan para pahlawan. Dari sini kami dapat memaknai arti perjuangan itu sendiri. Jangankan untuk mendirikan TNI, untuk bisa bertahan hingga titik finish saja ini sudah sangat melelahkan. Apalagi pada waktu itu, Andi Mattalatta beserta rombongan harus terus bertahan sambil mengemban misi yang sangat penting bagi kelangsungan NKRI.
Itulah sedikit cerita tentang pengalamanku mengikuti Napak Tilas di Sulawesi Selatan. Semoga kalian suka, dan semoga kegiatan seperti ini terus diadakan setiap tahunnya. Terima kasih dan sampai jumpa pada tulisan berikutnya.(*)




