Huawei: Simbol Perlawanan Hegemoni Barat
Opini

Huawei: Simbol Perlawanan Hegemoni Barat

Bagikan ke:

Dunia bergerak begitu dinamis. Negara-negara saling memperebutkan pengaruhnya. Apapun akan dilakukan demi menuruti epentingannya.

Di dunia modern saat ini, teknologi telah menjadi tulang punggung ekonomi. Berbagai negara berlomba-lomba untuk menciptakan inovasi-inovasi teknologi baru. Entah itu berupa perangkat keras maupun perangkat lunak.

Berbagai macam kebijakan diterapkan untuk dapat memfasilitasi kepentingan masing-masing negara. Bahkan beberapa negara tak segan untuk menekan negara lain demi dapat mempertahankan hegemoni teknologi dari negaranya.

Baca Juga: Tidak Semua Tren Harus Diikuti

Persaingan inovasi teknologi yang awalnya berupa persaingan business to business, antar perusahaan, berkembang menjadi persaingan pengaruh politik, yang melibatkan negara-negara.

Negara besar seperti Amerika Serikat tentu tidak dapat serta merta diam saja menghadapi hegemoninya diganggu oleh negara lain. Dengan alasan apapun ia pasti akan berusaha keras mempertahankan pengaruhnya di dunia. Salah satu cara yang diambil yaitu melalui bidang teknologi.

Seperti kita ketahui bahwa Amerika Serikat adalah negara dengan penguasaan teknologi terbesar di dunia saat ini. Melalui Apple dan Google, Amerika setidaknya berhasil menguasai hingga 97% pangsa pasar sistem operasi dan aplikasi seluler global.

Belum lagi ditambah dengan perusahaan-perusahaan teknologi lain seperti Microsoft, NVidia, Qualcomm, dan lain sebagainya. Hal ini membuat posisi Amerika menjadi sangat kuat dalam pangsa pasar teknologi dunia.

Baca Juga: Ekoteologi: antara Teori dan Ironi

Dengan posisinya tersebut, tentu Amerika akan sangat merasa terancam dengan hadirnya perusahaan-perusahaan teknologi dari negara lain, yang berpotensi dapat meruntuhkan pengaruhnya.

Salah satu perusahaan yang menjadi korban atas ketakutan Amerika ini adalah Huawei. Perusahaan teknologi asal China yang mengalami perkembangan cukup pesat pada waktu itu.

Inovasi dan perkembangan Huawei yang begitu masif kala itu telah membuat Amerika beserta sekutunya ketar-ketir. Hingga berakhir pada tuduhan ancaman keamanan dan pemboikotan.

Huawei dituduh menjadi sarana spionase China terhadap Amerika Serikat, yang berpotensi mengancam keamanan regional.

Karena hal tersebut, kemudian pihak Amerika melakukan pemboikotan yang membuat Huawei tidak dapat dengan bebas menggunakan produk teknologi dari negeri Paman Sam itu. Sebut saja misalnya seperti Google, Intel, Qualcomm, dll. Hal inilah yang membuat produk huawei hingga saat ini tidak memiliki fitur GMS (Google Mobile Service).

Bahkan beberapa negara Eropa juga menerapkan kebijakan yang sama, dan memerintahkan untuk segera mengganti pengguaan perangkat Huawei dengan perangkat lain yang diizinkan di negara mereka.

Dampak dari kebijakan ini sempat membuat Huawei tertekan, bahkan mengalami penurunan pendapatan.

Baca Juga: Kenapa Harus Iphone?

Namun, Huawei tidak gentar. Sejak awal pendiriannya Huawei sudah disiapkan untuk tidak ketergantungan pada teknologi dari luar. Sembari membuat produk dengan menerapkan teknologi luar yang sudah mapan, Huawei secara agresif juga menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk melakukan R&D.

Hingga pada saat pemboikotan itu terjadi, Huawei tidak serta merta jatuh dan mati. Sebaliknya, ia justru perlahan bangkit untuk menunjukkan taringnya.

Perlahan tapi pasti, Huawei mulai mengurangi penerapan produk-produk teknologi dari luar, terutama Amerika. Ia mulai mengembangkan sistem operasinya sendiri bernama HarmonyOS, yang pada mulanya masih mengadopsi sistem Android. Namun sekarang OS tersebut sudah sepenuhnya menjadi sistem tersendiri yang diberi nama HarmonyOS Next.

Selain itu, sedikit demi sedikit ia juga mulai melepaskan diri dari keterikatan dengan chipset buatan negara lain. Hingga Huawei berhasil meluncurkan chipset buatannya sendiri yang dinamai Kirin.

Saat ini bahkan produk perangkat seluler Huawei menggunakan komponen yang sebagian besar adalah  hasil dari produksi dalam negeri. Tak berhenti disitu, kemudahan akses dan ekosistem yang dibangun Huawei telah berhasil menarik minat pasar teknologi seluler dalam negeri China.

Bahkan sekarang ia mulai merambah pangsa pasar teknologi seluler di negara lain. Salah satunya Indonesia.

Bersama Huawei, China telah menunjukkan kesuksesannya dalam mewujudkan kemandirian teknologi di negaranya.

Penutup

Kisah ketangguhan dan keberhasilan Huawei ini bukan sekedar kisah persaingan inovasi teknologi dan ekonomi belaka. Namun juga mewujud menjadi semacam simbol perlawanan atas hegemoni dan kesewenang-wenangan negara-negara barat.

Negara seperti Amerika Serikat dan sekutu-sekutu baratnya merasa seolah telah menjadi penguasa atas teknologi dan perekonomian dunia. Mereka dengan seenaknya berbicara serta menerapkan kebijakan demi kepentingannya sendiri. Bahkan tidak sungkan untuk menekan negara lain yang dianggapnya lebih lemah.

China bersama dengan Huawei-nya telah menunjukkan kepada kita bahwa bangsa timur juga memiliki potensi dan kekuatan yang sama dengan bangsa barat.

Keberhasilan Huawei ini bukan sekedar bukti suksesnya mewujudkan kemandirian teknologi dari sebuah negara, namun juga telah bertransformasi menjadi salah satu bentuk nasionalisme berbasis teknologi.

Hal ini tentu sangat bagus bagi suatu negara untuk dapat benar-benar berdaulat secara teknologi, yang mana teknologi itu sendiri saat ini telah menjadi tulang punggung ekonomi dunia. Kedaulatan atas teknologi, berarti kedaulatan dalam ekonomi.

Indonesia sudah tentu bukan tidak mungkin untuk dapat menyusul keberhasilan China dalam melepaskan diri dari hegemoni negara asing. Akan tetapi, tentu saja harus dibarengi dengan kebijakan pemerintah yang lebih memihak kepada para inovator dan produsen teknologi dalam negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *