Review Buku Animal Farm
Hiburan

Review Singkat Novel Animal Farm

Pernahkah kalian berpikir bahwa dunia ini sudah busuk, negara ini sudah amburadul, kemiskinan di mana-mana, keadilan hanya jadi bualan belaka, penindasan merajalela, kekayaan hanya dinikmati degelintir orang?, dan pernahkah terlintas dalam benak kalian bahwa saat ini adalah waktunya untuk melakukan pemberontakan? dengan tekad untuk menciptakan suatu tempat utopis di mana tidak ada satu menindas yang lain, tidak ada satu lebih berkuasa dari lainnya.

Atau mungkin kalian pernah berharap pada suatu sosok atau kelompok yang menjanjikan perubahan, keadilan, kesejahteraan dan kesetaraan? Jika ya, mungkin kalian harus sedikit meluangkan waktu untuk membaca novel Animal Farm karya George Orwell.

Novel ini adalah salah satu buku yang baru saja selesai aku baca beberapa waktu lalu. Tidak tebal dan bahasa yang ringan membuat novel ini sangat aku sarankan buat kalian yang butuh sedikit hiburan sekaligus pemantik pikiran. Dengan tidak lebih dari 200 halaman, buku ini mungkin dapat kalian selesaikan dalam sekali  duduk.

Latar Belakang Singkat Penulis

George Orwell adalah nama pena dari seorang penulis berkebangsaan Inggris. Nama aslinya adalah Eric Arthur Blair.

Baca Juga: Fakta di Balik Mitos: Inilah 5 Makhluk Kriptid Asli Indonesia

Blair sendiri dikenal sebagai sastrawan dan novelis yang biasa membuat tulisan-tulisan bernuansa distopia, satir, kritik dan polemik. Sebagian besar karyanya terinspirasi oleh kondisi dunia yang ia alami saat itu, mulai dari perang saudara hingga perang dunia. Beberapa karyanya banyak mengkritisi pemimpin dan pemerintah negara-negara dunia pasa masa itu. Dan Animal Farm ini adalah salah satu karyanya yang paling legendaris.

Review Animal Farm

Animal Farm merupakan novel alegori politik yang bersifat satire yang mengkritik praktik pemerintahan totalitarianisme Soviet di bawah rezim Joseph Stalin. Novel ini menceritakan tentang sekelompok binatang yang hidup di peternakan bernama Manor Farm milik Pak Jones.

Dengan segala otoritasnya Pak Jones mengelola peternakan dengan segala kemampuan yang ia miliki. Namun, ia bukanlah pengelola peternakan yang baik – setidaknya itulah yang dirasakan para binatang. Ia kerap kali memperlakukan binatang-binatang dengan seenaknya sendiri.

Tak jarang Pak Jones yang pemabuk itu mengabaikan binatang-binatangnya, tak memberinya makan, mengeksploitasinya secara ugal-ugalan, bahkan tak sungkan juga ia menggunakan kekerasan untuk mendisiplinkan para binatang. Seolah para binatang itu hanya alat yang bisa dengan bebas ia gunakan untuk memenuhi kebutuhannya.

Baca Juga: Sinopsis Drakor Beyond the Bar, Berikut Daftar Pemeran dan Link Nonton Gratis

Sekian lama para binatang itu menjalani hidup di bawah penindasan Pak Jones, hingga pada akhirnya muncullah sebuah gagasan menarik yang lahir dari mimpi seekor babi tua bernama Si Tua Major. Pada suatu malam babi itu bermimpi tentang saat di mana dunia tidak lagi dikuasai oleh manusia, dan para binatang akan mendapatkan kebebasan, kesejahteraan dan hidup dalam kesetaraan. Mimpinya itu ia sampaikan pada pidato terakhir sebelum kepergiannya dari dunia.

Sepeninggal Si Tua Major, muncullah babi-babi muda yang memiliki semangat dan tekad kuat untuk mewujudkan mimpi tersebut. Hingga lahirlah sebuah gagasan tentang pemberontakan yang diinisiasi oleh para babi, dengan Napoleon dan Snowball sebagai pemimpinnya.

Singkat cerita hari pemberontakan itu tiba, dan tanpa disangka-sangka para binatang berhasil mengalahkan pasukan Pak Jones bersama para anak buahnya. Snowball yang berjuang dengan gagah berani juga mendapatkan sebuah penghargaan tertinggi sebagai Pahlawan Binatang Kelas Satu.

Usai pemberontakan yang diberi nama Pertempuran Kandang Sapi itu, para binatang kemudian menjadikan peternakan tersebut sebuah negara dan mengubah namanya menjadi Peternakan Binatang (Animal Farm). Dipimpin oleh Napoleon dan Snowball, mereka membuat dasar-dasar dan kebijakan-kebijakan negara. Salah satunya yaitu dengan menetapkan 7 perintah, yang berisi:

1. Apapun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh

2. Apapun yang berjalan dengan empat kaki, atau bersayap adalah teman

3. Tidak ada hewan yang boleh mengenakan pakaian

4. Tidak ada hewan yang boleh tidur di tempat tidur

5. Tidak ada hewan yang boleh minum alkohol

6. Tidak ada hewan yang boleh membunuh hewan lain

7. Semua hewan setara

Namun sayangnya, baik Napoleon maupun Snowball tidak pernah akur, mereka selalu berdebat dalam setiap hal. Hingga puncaknya, Napoleon dengan segala konspirasi dan dukungan pasukan anjing yang sudah ia besarkan mengusir Snowball dari peternakan tersebut.

Tak selesai sampai di situ, Napoleon juga menjadikan Snowball sebagai alat untuk melakukan teror dan menghalalkan tindakan represi terhadap para binatang lain. Hal ini juga didukung oleh babi muda lain bernama Squealer yang menjadi media propagandanya. Sehingga kekuasaan Napoleon di peternakan itu menjadi semakin absolut.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Drama Korea Tema Sekolah Terbaik

Seiring berjalannya waktu, Napoleon yang mulanya dipercaya oleh para binatang sebagai pemimpin yang baik, perlahan berubah menjadi sosok diktator yang kejam dan totaliter. Sedikit demi sedikit ia mengubah 7 perintah yang awalnya dibuat untuk kesejahteraan bersama, menjadi hanya menguntungkan para babi. Puncaknya ia mengubah poin 6 dari 7 perintah yang berbunyi “Tidak ada hewan yang boleh membunuh hewan lain” dengan menambahkan frasa “…tanpa alasan” di belakangnya.

Dengan dasar itu, Napoleon dengan tanpa ragu mengeksekusi mati beberapa binatang yang disebutnya telah bersekongkol dengan Snowball –yang menjadi lawan politiknya– dan berupaya melakukan pemberontakan. Bahkan ia juga dengan tanpa merasa bersalah menjual Boxer (si kuda pekerja keras) yang sedang sakit ke rumah jagal, alih-alih membawanya ke rumah sakit hewan.

Seiring berjalannya waktu, para babi yang menjadi penguasa di peternakan itu mulai menjalin hubungan dengan manusia, yang sebelumnya mereka anggap sebagai musuh. Mereka juga mulai makan, minum, berjalan dan berperilaku layaknya manusia. Hingga para binatang lain yang melihatnya tidak dapat membedakan mana yang babi dan mana manusia, pasalnya mereka sudah nampak sama.

7 perintah yang dibuat sebagai simbol persatuan dan kesetaraan antar binatang akhirnya hanya menyisakan satu frasa tunggal yang berbunyi:

“Semua binatang setara, namun beberapa binatang lebih setara daripada yang lain.”

Kritik dan Representasi dari Dunia Nyata

Seperti sudah aku sebutkan di awal, novel ini adalah alegori satir yang ditujukan untuk mengkritik rezim totaliter Joseph Stalin di Uni Soviet. Meski berlatar di peternakan dan menggunakan hewan sebagai pelaku utamanya, namun beberapa tokoh dalam cerita ini merupakan representasi dari tokoh-tokoh nyata di dunia –atau setidaknya memiliki kemiripan dengan mereka.

Sebut saja seperti Si Tua Major dengan mimpinya tentang kehidupan utopis para binatang, yang merepresentasikan Karl Marx sebagai tokoh penggagas paham Komunisme. Sama seperti Major yang mati sebelum melihat gagasannya terwujud, begitu juga yang dialami oleh Marx.

Selanjutnya ada Napoleon dan Snowball yang dapat direpresentasikan sebagai Joseph Stalin dan Leon Trotsky. Bagi kalian yang pernah membaca tentang kedua orang itu, kalian pasti tidak asing dengan tindakan Napoleon yang mengusir Snowball. Hal itu mirip dengan tindakan Stalin terhadap pesaingnya, Trotsky. Kemudian ada juga Boxer, si kuda pekerja keras yang menjadi representasi kelas pekerja.

Walaupun novel ini ditulis puluhan tahun lalu sebagai kritik terhadap pemerintahan Uni Soviet, namun kisahnya masih sangat relevan dengan kondisi masa kini.

Penutup

Dari novel ini kita belajar bahwa Pertama, tidak ada dunia utopis yang sempurna. Semua orang yang menawarkan harapan hanya akan menjadi harapan. Seperti apa yang dilakukan oleh para babi. Pada awalnya mereka seolah datang sebagai penyelamat dari penindas, namun akhirnya merekalah yang jadi para penindas itu sendiri.

Kedua, kekuasaan adalah sesuatu yang rawan. Siapapun orangnya yang mendapatkan kekuasaan jangan pernah dibiarkan menjadi penguasa yang absolut, karena hal itu akan berpotensi memunculkan kediktatoran. Itulah sedikit review tentang novel Animal Farm yang baru selesai kubaca beberapa waktu lalu. Novel ini sangat aku sarankan buat kalian yang suka dengan cerita-cerita bernuansa sejarah dan politik. Dan bagi kalian yang ingin memiliki novel ini bisa mendapatkannya melalui tombol berikut:

atau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *