Halo rekan-rekan sekalian! Sudahkah kalian bersyukur hari ini? Semoga rahmat dan berkat Tuhan menyertai kita semua.
“Bersyukur”, ya sebuah kata yang sering kali mudah diucapkan. Tapi, tahu ngga sih kalian apa itu bersyukur? Sejauh apa kata itu sudah kita terapkan? dan bagaimana kita menerapkannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu kerap kali mampir di rongga tengkorakku, mengusik dan mengobrak abrik isi kepalaku. Bahkan ia juga merangkak masuk ke dalam hati kecilku, hingga membuatnya gundah dan gelisah.
Baca Juga: Review Singkat Novel Animal Farm
Mungkin sudah lama aku berpisah dengan kata itu. Hingga suatu ketika di bawah terik matahari, didampingi sekelompok kecil awan hitam kupacu motor Beat andalanku menuju toko buku di kota sebelah.
***
Satu demi satu anak tangga kunaiki, menyibak deretan barang elektronik lengkap dengan mbak-mbak cantik disampingnya yang tak kenal lelah bersikap ramah menawarkan benda-benda itu. Hingga akhirnya terasa sepoi-sepoi dingin AC diiringi aroma kertas khas buku-buku baru. Disitulah mataku terpana melihat deretan rak-rak buku besar berisi ratusan atau bahkan ribuan karya para sastrawan, novelis, akademisi, hingga entah siapapun orang itu, yang jelas ia bisa menulis.
Tanpa pikir panjang, langsung kugerakkan tubuhku menuju rak bertuliskan Novel. Ada banyak sekali karya fiksi di sana, namun satu yang menarik perhatianku, yaitu sebuah buku dengan tulisan besar “Sisi Tergelap Surga” di sampul depannya.
Sedikit tentang Novel Sisi Tergelap Surga
Sisi Tergelap Surga merupakan salah satu novel karya Brian Khrisna, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2023 lalu. Dengan sekitar 300-an halaman, buku ini menyajikan berbagai kisah tentang betapa kerasnya kehidupan di Ibu Kota.
Baca Juga: Fakta di Balik Mitos: Inilah 5 Makhluk Kriptid Asli Indonesia
Jakarta yang terkenal dengan gemerlap lampu, gedung tinggi dan segala kemewahannya, ternyata menyimpan sisi gelap yang sangat jauh dari apa yang bisa disebut sebagai kehidupan. Di balik kota yang ‘katanya’ pusat ekonomi dan tujuan harapan hidup itu, masih ada banyak sekali orang-orang yang bahkan mungkin tidak layak untuk dibilang ‘hidup’. Tak sedikit dari mereka yang jika menurut pandangan kita mungkin hanya sekedar pelengkap dunia saja.
Bahkan beberapa dari kita mungkin ada yang memandang mereka sebagai makhluk rendahan, pengganggu, perusak, najis, kotor dan tak layak menginjak surga.
Dari banyaknya makhluk itu, ada Tomi si preman terminal, yang kasar dan emosional. Bahkan tak segan ia akan memukuli Dewi, istrinya, hanya karena masalah-masalah sepele. Kemudian ada Juleha, si pemandu lagu dan pelacur di tempat karaoke murahan, yang mencoba terus melanjutkan hidup dan menghidupi anak semata wayangnya. Ada juga si Danang, pria tampan yang terpaksa jadi waria untuk bisa membiayai kuliah adiknya.
Selain itu, ada kisah dari Pak Badut Ayam yang sangat pekerja keras untuk mensukseskan 3 putrinya. Kemudian ada pula kisah Resti si wanita pintar dengan karier mentereng, yang justru jatuh akibat kolotnya pandangan sosial masyarakat.
Setidaknya ada sekitar 18 cerita pendek yang saling berkaitan dalam novel ini, yang aku jamin akan membuat kalian jadi lebih bisa mensyukuri hidup yang kalian jalani sekarang.
Baca Juga: Antara Cinta dan Logika: Pergulatan Otak yang Membuat Kita Jadi Bodoh
Dari semua kisah yang nampak rendahan dalam buku ini, ada sisi di mana ternyata apa yang kita anggap salah belum tentu sepenuhnya salah, dan apa yang kita anggap benar belum tentu itu kebenaran sejati. Karena bisa saja kebenaran yang kita anut selama ini ternyata hanyalah hasil dari ego kita, dan bukan kebenaran itu sendiri.
Penutup
Kenapa harus membaca buku ini? Karena semua cerita masyarakat marjinal dan terpinggir disajikan dengan sangat epik. Seolah kita benar-benar dibawa masuk ke dalam kehidupan mereka. Mulai dari pemulung, preman, maling motor, PSK hingga manusia silver semua diceritakan dengan sangat bagus dan realistis. Sehingga pandangan tentang hidup yang selama ini kita anggap baik-baik saja, ternyata tidak sepenuhnya demikian.
Aku ngga terlalu bisa menjelaskan panjang lebar tentang isi novel ini, lagipula aku juga ngga ingin spoiler terlalu banyak tentang kisah-kisah para tokoh di dalamnya. Pokoknya ini adalah novel pertama yang benar-benar bisa membuatku merasa campur aduk, dari mual, marah, sedih hingga merasa berdosa, semua perasaan seolah sedang berada dalam mesin pengaduk semen.
Ngga perlu banyak kata lagi, kalian harus membaca buku yang satu ini. Oh ya, di sini aku ngga diendorse ya, aku cuma ingin ngasih tahu kalo buku ini bener-bener keren, dan sangat layak untuk dibaca.(*)
Bagi kalian yang ingin memiliki novelnya, silakan klik gambar di bawah:






