Isu tentang kehidupan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan tengah menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan. Mulai dari pegiat lingkungan, akademisi, ilmuwan, institusi dan lembaga pemerintahan, serta masyarakat umum. Hal ini dilatar belakangi oleh beberapa hal, seperti semakin masifnya pemanasan global, efek rumah kaca, tingginya emisi karbon, dan ancaman bencana akibat perubahan iklim.
Berbagai studi dan upaya tengah gencar dilakukan oleh pemerintah, badan usaha serta organisasi-organisasi massa lainnya untuk mengatasi hal ini, sebut saja seperti sosialisasi ekoteologi yang dilakukan kementerian agama, penetapan peraturan-peraturan terkait dengan energi ramah lingkungan, elektrifikasi moda transportasi (mobil, sepeda motor dan kereta api), penetapan fatwa terkait dampak lingkungan oleh majelis ulama, dan lain sebagainya.
Baca Juga: Jenis-Jenis Pasar Menurut Strukturnya
Namun, upaya-upaya tersebut akan percuma jika tidak diimbangi dengan pengetahuan, kesadaran, dan tindakan nyata untuk menerapkan perilaku ramah lingkungan/perilaku hijau (green behavior). Green Behavior sendiri adalah perilaku manusia dalam melindungi dan memelihara lingkungan sekitarnya.
Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Daniel Goleman, Lisa Bennett dan Zenobia Barlow (2012) yang disebutkan dalam artikel Dewi Ratih, Yadi Kusmayadi dan Wulan Sondarika (2022) berjudul Sosialisasi Green Behavior Melalui Nilai-Nilai Kearifan Lokal Hutan Lindung Terhadap Masyarakat di Lingkungan Situs Astana Gede Kawali.
Disebutkan dalam artikel tersebut bahwa green behavior dapat muncul dengan adanya kesadaran dalam diri manusia untuk mencintai alam semesta, untuk memunculkan kesadaran tersebut salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan ekoliterasi.
Nah, setelah kita tahu dan sadar bahwa kita harus mencintai dan menjaga alam semesta, lalu apa yang dapat kita lakukan untuk menerapkan green behavior ini?
Setidaknya ada beberapa hal yang dapat dilakukan dalam upaya menerapkan green behavior dalam kehidupan. Beberapa hal berikut mungkin bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan, pasalnya sangat berhubungan erat dengan kehidupan dan kegiatan kita setiap hari.
Tidak perlu kita terlalu muluk-muluk untuk menghijaukan kembali hutan yang gundul, atau menjernihkan kembali sungai yang tercemar, atau mungkin melakukan pembersihan besar-besaran seperti yang dilakukan rekan-rekan Pandawara Group, hal-hal seperti itu mungkin akan sulit bagi kita, terutama para pekerja korporat.
Namun, ada beberapa hal yang sangat mudah kita lakukan dalam upaya untuk menerapkan green behavior dan turut berkontribusi menjaga bumi. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:
Menerapkan Green Digital Habits
Mungkin sedikit terdengar asing bagi kita tentang green digital habits. Apasih sebenarnya green digital habits ini?
Sebelum itu, kita perlu ketahui terlebih dahulu apa itu green digital. Konsep ini sendiri merupakan gabungan dari dua konsep utama, yaitu “Green” yang merujuk pada keberlanjutan dan kesadaran lingkungan, serta “Digital” yang berkaitan dengan teknologi serta penggunaannya dalam berbagai bidang (Pusat Pelayanan Teknologi Informasi UMA, 2023).
Baca Juga: Mengenal IRR dan ARR untuk Penilaian Investasi
Berdasarkan pada dua konsep tersebut, maka Green Digital dapat dikatakan sebagai penggunaan teknologi digital dan inovasi (AI, IoT, Cloud, dll) dengan tujuan untuk keberlanjutan serta mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Dengan diterapkannya green digital ini diharapkan dapat mengurangi jejak karbon, mengoptimalkan sumber daya, serta memungkinkan solusi ramah lingkungan.
Dari penjelasan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa green digital habits adalah suatu kebiasaan/habits penggunaan teknologi digital yang bertujuan untuk keberlanjutan dan mengurangi dampak lingkungan. Adapun beberapa upaya yang dapat dilakukan yaitu:
a. Menggunakan Perangkat Keras dengan Lebih Bertanggung Jawab
Hal ini dapat dilakukan diantaranya dengan memperbaiki perangkat digital seperti laptop, smartphone atau tablet yang rusak jika memang masih bisa diperbaiki, alih-alih membeli baru. Tindakan ini dapat membantu mengurangi limbah elektronik.
Tindakan lain seperti membeli perangkat bekas yang sudah diperbaharui, atau perangkat bekas pakai juga dapat membantu mengurangi permintaan produksi baru serta menghemat sumber daya alam yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan perangkat tersebut.
Kemudian, memilah dan tidak membuang sampah elektronik secara sembarangan juga dapat membantu menjaga keberlanjutan lingkungan dalam kaitannya dengan green behavior ini. Alih-alih membuang sampah elektronik di tempat sampah umum, kalian bisa membawanya ke pusat daur ulang limbah elektronik yang sudah tersertifikasi. Jika fasilitas daur ulang ini belum tersedia di daerah kalian, kalian bisa memisahkan sampah-sampah elektronik tersebut pada tempat sampah khusus.
b. Efisiensi Penggunaan Energi Digital
Hal ini dapat dilakukan dengan mengurangi kecerahan layar; mengaktifkan mode hemat energi/tidur (sleep mode) – dapat dilakukan dengan mengatur perangkat pada mode otomatis mati setelah periode tidak aktif; Mematikan perangkat saat tidak digunakan – ini bisa dilakukan dengan memastikan semua perangkat (komuter, laptop, printer, handphone) termasuk pengisi daya dalam kondisi mati saat tidak digunakan; Menggunakan energi terbarukan untuk pusat data – bisa dilakukan dengan menggunakan layanan cloud serta pusat data yang menggunakan sumber energi terbarukan untuk operasionalnya.
c. Pengelolaan Data dan Perangkat Lunak yang Efisien
Tindakan yang satu ini dapat dilakukan dengan Membersihkan secara rutin kotak masuk email – meski terlihat sepele, ternyata email juga menyumbang emisi karbon digital. Lalu lintas email yang masif secara signifikan akan meningkatkan biaya energi tersembunyi.
Disebutkan dalam greennetwork.id, pada tahun 2024 ada sekitar 361 miliar lalu lintas email per hari, dan diperkirakan meningkat hingga 408,2 miliar pada tahun 2027 seiring dengan meningkatnya konektivitas. Email yang dikirim dan diterima tentu tidak melayang begitu saja, ia tentu membutuhkan pusat data dengan energi tinggi untuk menyimpan dan memprosesnya.
Memangnya sebesar apa dampak lingkungan dari email ini?
Secara pasti, dampak lingkungan dari jejak karbon email sulit untuk ditentukan. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis perangkat, usia perangkat, waktu pengiriman, jenis email (apakah email biasa atau menyertakan dokumen/gambar), besar energi yang digunakan, serta seberapa efisien server email tersebut. Berikut adalah kisaran jejak karbon yang dihasilkan email menurut penelitian Mike Berners-Lee dalam bukunya yang berjudul “How Bad are Bananas?: The Carbon Footprint of Everything” (2020).
Baca Juga: 3 Macam Strategi Penetapan Pasar Sasaran
Untuk email biasa yang dikirim antarponsel menghasilkan sekitar 0,2 gr CO2e, sementara email spam yang berhasil tersaring menghasilkan sekitar 0,03 gr CO2e. Sedangkan email yang memuat lampiran dengan ukuran besar atau berisi pesan panjang dapat menghasilkan hingga 50 gr CO2e.
Dalam satu tahun, penggunaan email rata-rata setiap orang dapat menghasilkan antara 3 sampai 40 kg CO2e. Jumlah tersebut setara dengan jarak tempuh mobil kecil dengan bahan bakar bensin sejauh 16 – 206 km.
Meski kerap diremehkan, ternyata dengan menghapus email dapat berkontribusi dalam mengurangi jejak karbon digital. Misalnya saja, dengan menghapus 1000 email, dapat menghemat sekitar 5 gr CO2e. Meski dampaknya nampak kecil bagi individu, namun jika dilakukan secara kolektif dapat mennghasilkan dampak yang cukup signifikan (Prasanthi, 2025). Untuk lebih mudah, berikut adalah tabel jejak karbon yang dihasilkan email berdasarkan jenisnya:
| Jenis Email | Emisi (CO2e) |
| Email spam yang terdeteksi oleh filter Anda. | 0,03 gr |
| Email singkat yang dikirim dan diterima melalui telepon. | 0,2 gr |
| Email singkat yang dikirim dan diterima di laptop. | 0,3 gr |
| Email panjang yang membutuhkan waktu 10 menit untuk ditulis dan 3 menit untuk dibaca, dikirim dann diterima melalui laptop. | 17 gr |
| Email massal yang membutuhkan waktu 10 menit untuk ditulis dan dikirim ke 100 orang, di mana 1 orang membacanya dan 99 orang lainnya hanya meliriknya selama 3 detik sebelum memutuskan untuk mengabaikannya. | 26 gr |
Sumber: CarbonLiteracy.com
Berdasarkan pada penjelasan di atas, maka dengan menghapus kotak masuk email secara rutin dapat membuat kita turut berkontribusi dalam mengurangi jejak karbon digital.
Mengelola penyimpanan cloud – Siapa yang tak tahu tentang teknologi yang satu ini. Hampir setiap orang yang beraktivitas digital pasti mengenal teknologi cloud storage, baik untuk menyimpan file atau sekedar untuk menyimpan riwayat login akun game.
Namun, tahukan kalian bahwa ternyata penyimpanan cloud juga memakan energi yang sangat besar, sebuah platform cloud storage tentu memerlukan pusat data untuk membuatnya bekerja dengan baik, disebutkan dalam The MIT Press Reader, satu pusat data dapat memakan energi listrik setara dengan 50.000 rumah. Dengan konsumsi daya mencapai 200 TWh per tahun, pusat data secara kolektif mengonsumsi energi lebih besar dari beberapa negara (Monserrate, 2022).
Bahkan disebutkan pula pada penelitin sebelumnya yang dilakukan oleh Universitas Carnegie Mellon, menyimpan dan menampung data sebesar 100 gigabyte di cloud per tahun dapat menghasilkan jejak karbon sekitar 0,2 ton CO2e (Adamson, 2017). Dengan demikian, menghapus data yang sudah tidak relevan dari layanan cloud storage dapat berkontribusi dalam upaya meminimalkan jejak karbon global.
Mengurangi streaming – Streaming konten (baik video atau musik) yang sering kita lakukan setiap hari ternyata juga menyumbang emisi karbon yang cukup signifikan. Disebutkan dalam sebuah laporan dari Carbon Trust yang berjudul Carbon Impact of Video Streaming, rata-rata emisi karbon dari aktivitas streaming video di Eropa selama tahun 2020 diperkirakan sekitar 56 gr CO2e/jam. Jumlah ini disebutkan setara dengan memanaskan empat kantong popcorn di microwave (Carbon Trust, 2021).
Selain itu, Netflix sebagai salah satu platform streaming juga menyatakan bahwa aktivitas streaming selama satu jam di seluruh dunia menggunakan layanannya dapat menghasilkan hingga 100 gr CO2e (Stewart & Schien, 2021).
Selanjutnya disebutkan dalam laporan IEA (Internasional Energi Agency), bahwa streaming video dengan definisi tinggi selama satu jam dapat menghasilkan emisi karbon antara 100 sampi 150 grCO2e. Angka ini mungkin terlihat kecil, namun jika miliaran jam ditonton secara global setiap tahun, maka dampak yang dihasilkan juga akan sangat signifikan (Klara, 2024).
Disebutkan pula jika semua lagu diunduh untuk dinikmati secara offline alih-alih streaming, diperkirakan dapat mengurangi emisi CO2 hingga 80% (Klara, 2024). Hal tersebut karena dalam pengunduhan hanya melibatkan satu kali transfer data, berbeda dengan streaming yang memerlukan transfer data secara terus menerus.
Maka, menikmati konten video atau musik dengan mengunduhnya terlebih dahulu untuk ditonton secara offline akan berkontribusi dalam mengurangi dampak lingkungan. Kalaupun kalian ingin tetap melakukan streaming, usahakan untuk memilih resolusi sesuai dengan kebutuhan dan perangkat yang digunakan, karena semakin tinggi resolusi yang dipilih juga akan berpengaruh terhadap jumlah emisi karbon yang dihasilkan.
Memilih search engine yang lebih sadar lingkungan – Beberapa search engine seperti Ecosia dan Search for Trees menggunakan keuntungan yang dihasilkannya untuk menanam pohon di seluruh dunia. Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi dampak dari jejak karbon akibat kegiatan digital, mengatasi perubahan iklim, memulihkan ekosistem, serta meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi di area-area yang membutuhkan.
Menerapkan Green Transportation
Green Transportation atau transportasi ramah lingkungan menurut Development Bank of Southern Africa adalah suatu moda transportasi yang tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan seperti bahan bakar fosil.
Sedangkan menurut Kementerian Perhubungan RI, green transportation didefinisikan sebagai sebuah sistem pergerakan dan konektivitas dalam suatu kawasan perkotaan yang menggunakan layanan transportasi yang tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca atau emisi gas buang sisa pembakaran.
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan dalam upaya untuk menerapkan green transportation ini yaitu seperti menggunakan sepeda atau berjalan kaki untuk mobilitas pendek; beralih ke kendaraan listrik; menggunakan transportasi umum seperti kereta api, bus dan metro; atau menerapkan kebiasaan dan teknik EcoRide saat berkendara sebagaimana banyak dikampanyekan oleh beberapa produsen kendaraan bermotor.
Membiasakan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Lainnya
Untuk yang satu ini mungkin rekan-rekan sudah sering sekali mendengarnya. Gaya hidup ramah lingkungan disini meliputi penghematan energi, bijak dalam menggunakan sumber daya, menerapkan 3R (Reduce, Reuse dan Recycle), memilih produk berkelanjutan, dan mengelola sampah dengan benar.
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan dalam kegiatan sehari-hari yaitu seperti membuang sampah pada tempatnya, menggunakan botol dan tempat makan yang bisa digunakan secara berulang (bukan sekali pakai), mengurangi penggunaan kantong plastik (menggantinya dengan tas belanja yang bisa dipakai berulang), dan lain sebagainya.
Produk-produk berikut ini bisa mendukung langkah kita untuk turut menjaga lingkungan:
Demikian beberapa hal terkait dengan green behavior yang dapat saya tuliskan, semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Mungkin kita belum benar-benar bisa menerapkan semua itu, namun setidaknya dengan mengetahui dan memahaminya, perlahan tapi pasti mari kita upayakan bersama untuk dapat menerapkannya.(*)
Referensi
Adamson, J. (2017, Juni). Carbon and the Cloud. Diambil kembali dari Stanford Magazine: https://stanfordmag.org/contents/carbon-and-the-cloud
Biro Komunikasi dan Informasi Publik. (2022, Juli 22). Kemenhub Sepakati Program G to G Future Cities Green Transportation. Diambil kembali dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia: https://dephub.go.id/post/read/kemenhub-sepakati-program-g-to-g-future-cities-green-transportation
Carbon Trust. (2021). Carbon Impact of Video Streaming. London: Carbon Trust.
Klara. (2024, Desember 5). The Environmental Impact of Streaming vs. Downloading: Why Offline Viewing Could Be Greener. Diambil kembali dari 4K Video Downloader Plus: https://www.4kdownload.com/blog/2024/12/05/is-downloading-greener-than-streaming/
Monserrate, S. G. (2022, Februari 14). The Staggering Ecological Impacts of Computation and the Cloud. Diambil kembali dari The MIT Press Reader: https://thereader.mitpress.mit.edu/the-staggering-ecological-impacts-of-computation-and-the-cloud/
Prasanthi, S. (2025, Juni 12). Benarkah Menghapus Email dapat Membantu Selamatkan Bumi? Diambil kembali dari Green Network: https://greennetwork.id/ikhtisar/benarkah-menghapus-email-dapat-membantu-selamatkan-bumi/
Pusat Pelayanan Teknologi Informasi UMA. (2023, Juli 20). Green Digital Yang Sering di Kampanyekan di Dunia, Tapi Apa Sebenarnya Green Digital? Diambil kembali dari Pusat Pelayanan Teknologi Informasi Universitas Medan Area: https://p2ti.uma.ac.id/green-digital-yang-sering-di-kampanyekan-di-dunia-tapi-apa-sebenarnya-green-digital/
Ratih, D., Kusmayadi, Y., & Sondarika, W. (2022). Sosialisasi Green Behavior Melalui Nilai-Nilai Kearifan Lokal Hutan Lindung Terhadap Masyarakat di Lingkungan Situs Astana Gede Kawali. ABDIMAS GALUH, 61-76.
Stewart, E., & Schien, D. (2021, Juni 11). Dampak Sesungguhnya dari Streaming terhadap Iklim. Diambil kembali dari Netflix: https://about.netflix.com/id/news/the-true-climate-impact-of-streaming
Walkley, S. (2022, September). The Carbon Cost of an Email: Update! Diambil kembali dari Carbon Literacy Project: https://carbonliteracy.com/the-carbon-cost-of-an-email/






