Jepang telah lama dikenal memiliki banyak karya kreatif. Sebut saja seperti anime, game dan manga yang popularitasnya tersebar ke seluruh dunia, termasuk juga Indonesia. Seiring dengan munculnya karya-karya tersebut, telah menjadi keniscayaan akan munculnya sekelompok orang yang menjadi penggemar karya-karya itu. Orang-orang ini lebih sering kita kenal dengan sebutan ‘otaku’.
Kata otaku sendiri berasal dari Bahasa Jepang, yang artinya adalah seseorang yang memiliki ketertarikan terhadap sesuatu, rata-rata terhadap anime dan manga. Namun di Indonesia istilah ini dipersempit hanya sebagai seseorang yang memiliki ketertarikan spesifik terhadap anime atau manga saja.
Sebagaimana orang-orang yang menggemari sesuatu, banyak dari para otaku ini terkadang terlalu berlebihan dalam mendedikasikan diri pada hobinya, yang lama kelamaan malah menjadi suatu kebiasaan kurang baik, bahkan penyakit sosial. Tak hanya di Jepang, bahkan juga di berbagai negara lainnya termasuk Indonesia.
Baca Juga: Misteri Orang Bunian, Manusia Ghaib Penghuni Hutan Sumatera
Lalu, apa saja sebenarnya penyakit sosial yang kerap dialami oleh para otaku ini?
Secara garis besar ada empat penyakit sosial yang dapat dialami oleh seorang otaku, yaitu chuunibyou, wibu, nijikon dan hikikomori. Berikut adalah penjelasan singkatnya.
1. Chuunibyou
Chuunibyou atau dapat juga diartikan sebagai ‘Sindrom kelas 2 SMP’ adalah salah satu penyakit sosial otaku yang biasanya dialami oleh anak-anak usia puber, sekitar 14-15 tahun atau kelas 2 SMP.
Mereka yang mengalami sindrom ini biasanya bertingkah sesuai dengan apa yang mereka imajinasikan, seperti dapat menyemburkan api, memiliki kekuatan super, dapat mengeluarkan rasengan, dan lain sebagainya.
Biasanya tingkah laku mereka tergantung dari karakter fiksi yang mereka idolakan, misalnya Naruto, Power Ranger, Kamen Rider, atau tokoh-tokoh fiksi lainya. Sindrom ini umumnya akan sembuh seiring dengan bertambahnya usia si penderita, namun banyak juga penderita chuunibyou yang terjangkit hingga mereka dewasa.
2. Wibu
Perlu diketahui sebelumnya bahwa seorang wibu pasti adalah seorang otaku, namun tak semua otaku adalah seorang wibu. Wibu sendiri adalah penyakit sosial dimana penderitanya terlalu berlebihan dalam mendedikasikan dirinya terhadap semua hal yang berbau Jepang.
Baca Juga: Review Novel Sisi Tergelap Surga: Buku yang Membuatku Bersyukur
Mereka cenderung terlalu mendewakan Jepang, mulai dari budaya, kebiasaan, cara berpakaian, cara bicara, dan semua hal yang berbau jejepangan. Mereka beranggapan bahwa Jepang adalah yang terbaik, semua orang harus menyukai Jepang, dan ada kalanya mereka akan sangat marah saat ada orang yang menghina Jepang.
3. Nijikon
Nijikon sebenarnya adalah singkatan dari ‘Nijigen Kompurekkusu’ atau Kompleks 2 Dimensi (2D Complex). Mereka yang menderita penyakit ini cenderung tidak memiliki ketertarikan terhadap sosok manusia tiga dimensi. Mereka sangat terobsesi bahkan jatuh cinta pada karakter dua dimensi.
Orang-orang dengan penyakit ini biasanya akan mengaku bahwa salah satu karakter fiksi favorit mereka adalah waifu (wife: istri) atau husbu (husband: suami)-nya. Mereka akan sangat marah jika waifu atau husbu mereka dihina. Dalam kasus yang lebih parah, para nijikon ini bahkan tak ragu untuk menikahi tokoh fiksi favorit mereka.
4. Hikikomori
Dari beberapa penyakit sosial otaku yang saya jelaskan sebelumnya, ini adalah yang paling parah (setidaknya menurut saya). Hikikomori sendiri diartikan sebagai ‘menarik diri’. Mereka akan menarik diri dari lingkungan sosial, dan tenggelam dalam dunia mereka sendiri.
Sekilas mereka mirip dengan orang yang anti sosial, namun pada kenyataannya mereka tidak sepenuhnya sama dengan pengidap anti sosial. Hikikomori ini lebih parah dari seorang anti sosial, dimana mereka akan menarik diri dari lingkungan sosial secara ekstrim.
Pengidap hikikomori ini biasanya akan mengurung diri di dalam kamar dan terjebak oleh tayangan-tayangan di layar televisi atau monitor komputer, bahkan mereka hampir tak pernah tidur.
Baca Juga: Review Singkat Novel Animal Farm
Seorang hikikomori dapat mengurung dirinya hingga berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan tercatat ada yang mengurung diri hingga sepuluh tahun. Seseorang menjadi hikikomori biasanya disebabkan oleh beberapa hal, seperti pernah mengalami trauma dalam kehidupan sosial mereka, pernah menjadi korban bullying, dan lain sebagainya.
Penutup
Demikian artikel singkat tentang beberapa penyakit sosial yang sering diderita para otaku.
Memiliki dunia sendiri terkadang memang perlu bahkan mengasyikkan, tapi jangan lupa bahwa kita hidup di dunia nyata yang juga harus bersosialisasi dengan manusia lain. Jangan sampai karena terlalu asyik dengan dunia kita sendiri hingga lupa dengan di mana kita hidup yang sebenarnya.
Sebenarnya para otaku yang menderita penyakit sosial seperti dijelaskan di atas juga tidak sepenuhnya menjadi seperti itu atas kehendak dan kemauan mereka sendiri. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan mereka berlaku demikian, misalnya seperti trauma dalam kehidupan sosial mereka, pengalaman asmara yang buruk, bullying, dan lain sebagainya. Jadi jika ada teman kita yang mengidap beberapa penyakit di atas, jangan sampai kita tinggalkan mereka, jangan kita kucilkan mereka, kalau bisa kita bantu mereka agar bisa hidup layaknya seorang manusia normal. Karena jika kebiasaan dan kondisi seperti itu dibiarkan, dikhawatirkan akan menyebabkan penyakit psikologis lain yang bisa jadi lebih parah dari yang mereka derita saat ini.(*)




