Ilustrasi Hilangnya Kepemilikan Pribadi (Sumber: GeminiAI)
Jurnal

Hilangnya Kepemilikan Pribadi

Bagikan ke:

Pada 28 Juli 2026 lalu, Apple secara resmi telah memberlakukan program Apple Upgrade di negara asalnya, yaitu Amerika Serikat. Program ini adalah sebuah inovasi layanan baru dari Apple yang memungkinkan pelanggan untuk dapat menikmati layanan produk Apple (Iphone, Ipad, MacBook dan IWatch) tanpa harus mengeluarkan banyak uang untuk membeli produknya. Lantas bagaimana kita bisa menggunakan layanannya tanpa harus membeli produk?

Nah, ini yang menarik. Jika kalian pernah menemui jasa persewaan Iphone, MacBook atau Kamera DSLR yang umum ada di Indonesia, maka hal ini juga yang diterapkan oleh Apple. Mereka bekerja sama dengan salah satu platform fintech bernama Klarna untuk menyediakan program ini.

Dengan program ini, pelanggan bisa memegang produk dan menikmati semua fitur yang ada di dalamnya hanya dengan membayar bulanan hingga kontrak yang disepakati berakhir. Misalnya kalian ingin menggunakan Iphone 17 Pro Max, alih-alih menabung lama untuk bisa membelinya dengan harga yang cukup tinggi, kalian bisa menggunakannya dengan datang ke Apple Store dan mengajukan sewa produk tersebut sesuai dengan jangka waktu yang dibutuhkan. Tentunya dengan berbagai syarat dan ketentuan.

Baca Juga: Huawei: Simbol Perlawanan Hegemoni Barat

Hal ini sangat menarik pikiran saya. Menjadikan saya semakin overthinking dengan dunia dan kehidupan ini. Kenapa bisa?

Jadi begini. Pola dan gaya hidup manusia semakin kesini semakin dinamis. Produk, jasa, dan berbagai layanan telah berkembang sangat pesat untuk mengikuti, atau setidaknya menyediakan apa yang manusia butuhkan. Tentunya dengan berbagai macam kemudahan.

Namun, apakah kalian menyadari, bahwa semakin kesini manusia seolah dipaksa untuk tidak bisa memiliki apapun. Mereka hanya hidup untuk bekerja, mencari uang, lalu mati. Tanpa ada sesuatu yang dapat mereka miliki apalagi wariskan.

Misalnya saja, kita mulai dari layanan streaming film. Dulu kalau kita mau nonton film atau hiburan khusus yang tidak ada di televisi, kita bisa membeli VCD/DVD yang bisa kita miliki dan kita nikmati isinya selama barang tersebut masih bagus (tidak rusak). Saat ini, kita disediakan platform untuk menikmati hiburan dengan sistem langganan bulanan seperti Netflix, HBO, Disney+ Hotstar, dll, yang produknya hanya bisa kita nikmati selama kita mau membayar biaya langganan. Jika suatu saat kita tidak bisa membayar biaya langganan, maka kita harus ikhlas untuk tidak bisa lagi menikmati layanannya.

Dan semakin kesini lagi, ternyata tidak hanya produk entertainment yang menerapkan sistem seperti itu. Konsep dan sistem yang sama telah merambah banyak layanan lain seperti Media Sosial, Beberapa Aplikasi Office (Microsoft 365, WPS Office, dll), Platform Penyimpanan Cloud, Aplikasi Pencari Nomor, Fasilitas Olahraga, Layanan Internet, bahkan Mobil Listrik juga sudah menerapkan sistem subscription semacam ini. Dan yang terbaru, yaitu langganan produk Apple.

Baca Juga: Kumbang Kapiran

Sekarang kita mungkin merasa bahwa program-program semacam itu adalah wajar, terutama untuk produk-produk digital. Tapi sadarkah kalian kalau beberapa kebutuhan dasar untuk kehidupan kita saat ini sudah tidak mengenal sistem kepemilikan pribadi. Dan parahnya, sistem dunia bergerak seolah memaksa kita untuk tidak lagi memiliki apapun.

Coba kita renungkan. Harga rumah yang layak pada saat ini semakin tinggi. Sementara penghasilan kita masih di angka itu-itu saja. Kalaupun ada kenaikan penghasilan, masih tidak sebanding dengan kenaikan harga rumah tiap tahunnya. Hal ini menuntut kita untuk mau tidak mau harus menyewa rumah/apartemen agar tetap memiliki tempat tinggal. Begitu juga dengan pertanian, harga tanah yang tidak sebanding dengan penghasilan membuat kita sulit untuk memiliki lahan sendiri. Ujung-ujungnya kita harus menyewa lahan untuk bisa bertani.

Dari dua kasus di atas, jika ada seseorang yang sangat kaya dan dapat memanfaatkan demand yang tinggi untuk tempat tinggal atau lahan pertanian, maka bukan tidak mungkin bahwa suatu saat hal itu akan dikomersialisasi. Tempat tinggal atau lahan yang sekarang bisa kita sewa dari pemilik perseorangan, bisa jadi di masa depan akan dikuasai oleh korporasi. Dan kita harus menyewanya dari mereka.

Begitu juga dengan kepemilikan kendaraan, entah itu sepeda, mobil atau motor. Saat ini sudah ada Hyundai yang menawarkan program subscription untuk mobil listrik. Tidak menutup kemungkinan di masa mendatang akan lebih banyak lagi perusahaan-perusahaan lain yang menerapkan sistem seperti ini juga. Bahkan tidak menutup kemungkinan juga semua kebutuhan dasar di masa depan akan menggunakan sistem subscription. Dan kita tidak akan punya apapun untuk dimiliki secara penuh.

Lalu jika hal itu benar-benar terjadi nanti, apakah kita-kita masyarakat kelas menengah ini sudah siap? Apakah kita sudah melakukan sesuatu mulai hari ini? Apa kira-kira yang bisa kita lakukan? Mari merenung bersama.

Itulah sedikit tulisan yang muncul dari keresahan saya pribadi. Semoga bisa memicu pemikiran dan perenungan kita bersama. Terima kasih.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *