Era media sosial telah banyak membawa perubahan pada berbagai macam aspek kehidupan kita saat ini. Seiring dengan hal itu akibatnya banyak bermunculan berbagai macam tren yang mungkin sebagian dari kita juga mulai mengikutinya. Padahal, tidak semua tren yang ada di media sosial itu baik, bagus dan benar. Tak sedikit pula yang justru membawa kerusakan bahkan berpotensi merugikan diri sendiri.
Fenomena selalu mengikuti tren ini sering kita sebut dengan FOMO (Fear of Missing Out), di mana banyak orang merasa takut ketinggalan (atau setidaknya dianggap ketinggalan/kudet) jika tidak mengikutinya. Hal seperti ini banyak terjadi di kalangan anak muda, khususnya pada generasi millenial, Gen-Z, dan sekarang disusul Gen Alpha.
Paparan media sosial yang begitu masif, yang dibarengi dengan kebiasaan doom scrolling menjadi pemicu munculnya fenomena ini. Akibatnya informasi yang diterima otak menjadi overload, sehingga secara tidak sadar dapat memengaruhi perilaku sehari-hari.
Baca Juga: Kenapa Harus Iphone?
Perubahan standar sosial akibat masifnya penggunaan media sosial juga turut menyumbang sebab fenomena ini terjadi. Tak sedikit orang yang merasa cupu dan kurang update di tongkrongan, hanya karena tidak mengikuti tren yang ada di media sosial.
Akibatnya banyak anak muda yang alih-alih memahami secara mendalam konteks tren tersebut, mereka justru mengikuti tanpa filter semua itu. Mereka seolah kehilangan landasan dan standar pegangan pemikiran mandiri mereka. Atau kalau saya boleh sebut, mereka akhirnya malah menjadi robot zombie yang dikendalikan oleh media sosial.
Contoh Tren di Indonesia
Sebut saja seperti tren tentang mengubah foto profil menjadi warna Merah Muda (#BravePink) dan Hijau (#HeroGreen) pada saat terjadi kerusuhan beberapa waktu lalu.
Dari banyaknya akun media sosial yang menggunakan foto profil itu, apakah mereka benar-benar memahami apa yang mereka lakukan? Kemungkinan tidak, menurut keyakinan saya banyak dari mereka yang hanya sekedar ikut-ikutan saja “biar dibilang tidak ketinggalan tren”. Ya, meskipun sebenarnya tak sedikit juga yang memang tahu betul apa yang mereka lakukan.
Kemudian ada juga tren Iphone, yang masih berlangsung hingga saat ini. Banyak orang menggeser esensi produk teknologi dari Apple ini, dari sebuah perangkat komunikasi menjadi standar status sosial.
Bahkan beberapa teman wanita saya ada yang menganggap kalau mau kelihatan cantik harus punya Iphone. Di otak saya cuma mau bilang, “Bagaimana bisa suatu kondisi fisik dan skill merias wajah dikaitkan dengan sebuah perangkat komunikasi?!”. Ya meskipun harus kita akui kalau kamera Iphone memang sebagus itu (setidaknya bisa membuat foto kalian terlihat lebih cantik).
Baca Juga: Dunia Tidak Berjalan Sesuai Keinginanmu
Sedikit mundur ke belakang sekitar tahun 2019 sampai 2022, di mana pada saat itu muncul banyak influencer yang mulai terang-terangan memamerkan kekayaannya. Ada yang mengaku mereka bisa kaya dari investasi, binary option, trading, bahkan crypto.
Di saat itu banyak masyarakat yang tertarik mengikuti jejak para influencer ini. Tanpa tahu siapa mereka, apa latar belakang mereka, bagaimana pendidikan mereka, dan bagaimana dasar pemikiran mereka, orang-orang mengikutinya hanya dengan modal harapan dapat menjadi seperti apa yang mereka tunjukkan di media sosial.
Hingga keruntuhan menghampiri popularitas para influencer itu, semua yang mereka pamerkan hilang, apa yang mereka banggakan hancur, seiring dengan banyaknya masyarakat yang menjadi korban kasus penipuan yang mereka lakukan.
Dan sekarang, bergulir lagi sebuah laporan dugaan kasus yang serupa kepada seorang influencer yang sering mempromosikan Cryptocurrency. Beberapa member kelas keuangan yang ia jalankan merasa telah ditipu dan menuntut agar yang bersangkutan dihukum. Meskipun kita belum tahu seperti apa kelanjutan kasus ini nanti.
Berdasarkan beberapa contoh di atas dapat kita lihat, dari semua tren yang saya sebutkan menunjukkan sebuah pola yang sama, yaitu kegagapan masyarakat kita dalam menerima informasi dan iming-iming dari framing media sosial.
Sebenarnya masih banyak contoh lain yang ingin saya ungkapkan di sini, tapi saya rasa contoh-contoh di atas sudah cukup. Semoga kalian dapat mengerti apa yang ingin saya sampaikan.
Refleksi
Rekan-rekan pembaca sekalian, mari kita luangkan waktu sedikit untuk merenung sebelum mengikuti sebuah tren di media sosial. Mari kita berpikir sejenak sebelum mengambil sebuah keputusan. Apakah kita benar-benar tahu dan mengerti tentang apa yang kita lakukan, atau kita hanya sekedar gagap menerima informasi yang begitu masif dari media sosial.
Ngga semua hal harus kita lakukan, ngga semua tren harus kita ikuti. Kita ngga perlu terlalu merepotkan diri agar selalu dibilang “Si Paling Update”. Kita ngga butuh validasi-validasi dari orang yang tidak punya kontribusi nyata di hidup kita.
Baca Juga: Korban-korban Kapitalisme
Ujung-ujungnya kita sendiri yang harus menjalani hidup ini. Mereka yang sok paling ngetren ngga akan peduli sama kondisi kita.
Jadi, please! Ayo kita sama-sama melatih diri untuk menahan sejenak, membiasakan diri untuk berpikir sebentar, merenung, sebelum benar-benar mengambil suatu langkah dan tindakan. Jangan sampai karena ketergesa-gesaan kita, ambisi kita, obsesi kita, akhirnya membuat hidup tenang kita jadi berantakan.
Hp ga harus Iphone, kepedulian dan solidaritas bisa ditunjukkan lewat apa saja, dan menjadi kaya ngga harus lewat pasar keuangan, trading atau crypto. Toh juga pada akhirnya kita hanya akan mencari sebuah ketenangan.
Gapapa kok kalo kita jalannya lambat, gapapa juga kita keliatan kurang update, yang penting otak dan hati kita tahu ke mana kita harus melangkah. Apa tindakan yang harus kita ambil. Bukan hanya sekedar ikut-ikutan arus sosial yang menyesatkan.
Sedikit pesan terakhir untuk saya dan mungkin rekan-rekan pembaca juga. Daripada hanya sekedar ikut-ikutan, lebih baik kita tambah pengetahuan kita, kita bangun dasar pemikiran kita, dan kita kuatkan pendirian kita agar dapat menentukan langkah terbaik untuk diri kita sendiri dan lingkungan kita.
Demikian dari saya, semoga bisa bermanfaat buat kita semua. Terima kasih(*)
Disclaimer: Tulisan ini saya buat berdasarkan keresahan saya pribadi, apa yang saya sampaikan di sini bisa jadi salah. Jadi, bijaklah dalam menerima informasi, dan silakan disanggah jika ada yang kurang tepat menurut kalian.



